Review Biomutant, Mutasi yang Salah

#7 Review game Biomutant. Calon game bagus tapi dengan mutasi yang salah.

Saat Biomutant pertama kali merilis cinematic trailer-nya pada 2017 lalu. Saya termasuk orang yang skeptis pada game ini.

Waktu itu, saya adalah salah satu orang yang 'dikecewakan' oleh Prey, game yang bagus tapi jauh dari ekspektasi saya. Tahun 2019 lalu, saya juga sedikit kecewa dengan Days Gone yang sebenarnya punya banyak potensi tapi terasa seperti game yang terlalu buru-buru.

Dan terakhir adalah Cyberpunk 2077 yang... ya sudahlah.

Jadi, saya seharusnya sudah belajar tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada sebuah game.

Tapi, kemudian THQ Nordic memberikan lebih banyak detail tentang Biomutant dan sebagai pecinta game Action-RPG, sistem crafting dari game ini adalah yang membuat saya memutuskan untuk membeli dan berikut ini adalah review pribadi saya.


Sound Design yang 'Aduh, Enggak Banget'

Saya mulai dari satu hal yang membuat saya paling kecewa. Sound design secara keseluruhan untuk game ini sangat buruk.

  • Sound effect saat pertarungan terasa sangat kurang. Melawan monster dengan pedang tidak memberikan suara tebasan yang memuaskan, begitu pula dengan suara senjata pistol yang terasa kurang kuat.
  • Beberapa cutscene malah membisu. Padahal seharusnya bisa dengan mudah ditambahkan musik atau sound effect.
  • Suara saat berjalan dan berlari sangat tidak memuaskan untuk didengar. Baik saat naik mount atau tidak.
  • Keseluruhan suara dunianya sangat bisu, tidak ada audio cue yang menarik saat bermain.

Pace Awal yang Lambat

Di awal permainan setelah menyelesaikan tutorial, pace dari game ini terasa sangat lambat hingga sampai pada pertengahan game. Kenapa bisa lambat?

  1. Dunianya terlalu luas.
  2. Dunia dipenuhi area vertikal tapi tidak ada cara untuk memanjat naik dengan mudah.
  3. Semua Main Quest yang dibuka sejak awal, tapi untuk mencapainya harus menyelesaikan quest lain terlebih dahulu.
  4. Cerita narasi yang diceritakan narator. Sehingga setelah para karakter bercakap cakap dengan gibberish-nya, narator harus menerjemahkannya lagi.

Fighting yang Arkham-Like tapi Tidak Sukses

Seri video game Batman Arkham adalah salah satu game dengan fight terbaik, karena Batman terasa sangat kuat tapi masih bisa terkalahkan di waktu bersamaan.

Biomutant sepertinya ingin meniru ini. Terlihat dari bagaimana mereka menerapkan slow-motion pada successful dodge dan cue yang diberikan musuh saat mereka akan menyerang.

Tapi, hal ini gagal total pada Biomutant. Kenapa? Karena jarak kamera pada Batman Arkham cukup jauh sehingga kita sebagai player bisa memantau hampir semua musuh di saat bersamaan. Sementara pada Biomutant, jarak kamera ini terlalu dekat.

Narasi Cerita yang Memusingkan

Biomutant memang memiliki sebuah dasar yang unik. Sebuah dunia post-apocalyptic dimana para hewan pengerat bermutasi dan memiliki struktur hidup layaknya manusia.

Tapi... Narasi cerita Biomutant terasa sangat memusingkan karena beberapa hal:

  1. Setiap dialog harus diceritakan kembali oleh narator. Hal ini membuat pace jadi melambat, momentum cerita juga jadi hilang. Tapi jangan salah, narator Biomutant melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.
  2. Banyak istilah asing dan nama-nama yang terlalu unik. Salah satu kekuatan dari game RPG yang mempunyai cerita orisinal memang adalah nama dan istilah yang digunakan. Tapi, Biomutant melewati banyak batas. Mereka menggunakan istilah yang terlalu unik sehingga sangat sulit untuk relate terhadap nama dan istilah tersebut. Misalnya? Jumbo Puff dan Hoof Poof.

Boss Fight yang Membosankan

Boss di Biomutant ukurannya lumayan 'raksasa' tapi, boss fight-nya sangat-sangat tidak memuaskan.

Boss fight terasa terlalu membosankan bahkan cenderung scripted. Pergerakan dan tipe serangan terlalu mudah dibaca, walau damage-nya besar, tapi hampir setiap boss fight hampir selalu bisa dimenangkan.

Kok bisa gitu?

Sebelum bisa melakukan boss fight. Kita DIWAJIBKAN menyelesaikan beberapa quest untuk mengumpulkan beberapa item, ketika semua sudah terkumpul barulah bisa melawan boss.

Jadi, hampir mustahil saat sedang wandering around lalu tiba-tiba harus melakukan boss fight.

Quest yang Aduh dan Dunia yang Aduh

Oke, supaya mempersingkat review ini. Saya gabungkan dua poin ini. Seperti game open-world lainnya, Biomutant juga menderita 'penyakit' yang sama pada elemen quest dan world-nya.

  1. Questnya repetitif. Serepetitif apa? Pergi kesana, ambil ini. Pergi kesini, kalahkan ini. Gitu-gitu terus.
  2. World-nya juga terasa sangat-sangat sepi. Sangat kecil kemungkinan bertemu dengan NPC yang sedang jalan-jalan lalu memberikan unique quest. Hampir semua NPC yang memberikan quest berada di fixed place.

Sepanjang lebih dari 500 kata, saya sudah menuliskan keluh kesahnya terhadap Biomutant. Tapi, memang game ini tidak ada bagusnya? Tentu ada dong.

Gamenya Selesai dan Mulus

Saya sudah sangat dikecewakan dengan Cyberpunk 2077, jadi ketika bermain Biomutant dan gamenya berjalan sangat-sangat lancar. Saya bahagia.

Saya bermain di PS4 Slim, jadi kadang-kadang masih mengalami FPS drop tapi bagi saya hal itu tidak terlalu masalah sih.

Tidak ada bug yang menganggu pengalaman bermain atau yang membuat game jadi crash. Semuanya lancar dan mulus.

Crafting yang... Kind of OK

Walaupun crafting-nya masih sebatas 'kosmetik' dalam arti senjata dengan bentuk paling unik kemungkinan adalah yang paling kuat walaupun bentuknya tidak nyambung.

Crafting yang bukan hanya senjata, tapi juga armor jadi elemen yang paling saya sukai dari game ini. Membuka setiap loot box terasa seperti sebuah keharusan, apalagi yang bersinar warna emas atau merah.

Crafting pada Biomutant menjadi alasan yang cukup kuat untuk menjelajahi world-nya.


Kesimpulan

Kesimpulannya? Kalau punya duit lebih, silakan beli game ini. Tapi, saya rekomendasikan saat harganya sudah diskon. Membayar $60 untuk game ini terasa terlalu mahal, mungkin $30 atau $20 adalah harga yang pas.

Atau tunggu sekuelnya (kalau ada).


Bonus: Bagaimana Bermain Biomutant dengan Mudah

  1. Pilih Dead-Eye Class. Ini adalah class paling broken pada Biomutant saat saya menulis artikel ini.
  2. Maksimalkan Luck. Gunakan setiap naik level untuk meningkatkan Luck. Kenapa? Karena Luck meningkatkan kesempatan mendapat loot bagus sekaligus critical chances.
  3. Dapatkan Sharpshooter secepatnya. Dead-Eye Class memiliki Sharpshooter Perk yang menggandakan damage pada two-handed gun, bisa didapatkan pada level 15.
  4. Gunakan armor yang meningkatkan critical chances. Dengan critical chances yang tinggi pada senjata jarak jauh yang memiliki damage dua kali lipat, boss fight pun akan terasa seperti melawan kue bolu.