Ketika Kamu Jatuh Cinta

Apa itu Cinta? Apa yang terjadi saat jatuh Cinta?

Ketika Kamu Jatuh Cinta
Photo by DESIGNECOLOGIST / Unsplash

Tahun 2012 lalu, saya pernah menulis sebuah artikel dengan judul Pentingnya Jatuh Cinta. Tapi, seperti kebanyakan tulisan saya waktu itu, isinya hanya berdasarkan dari pop articles di internet.

Kini, sembilan tahun kemudian, saya mau memberikan update pada artikel tersebut. Intinya sih masih sama, saya masih mengajak semua yang membaca untuk berani jatuh cinta. Tapi, kenapa?


Apa itu Jatuh Cinta?

Jatuh cinta bukan lagi fenomena langka, hampir setiap makhluk hidup pernah merasa kasmaran. Entah jatuh cinta berujung ke pelaminan, sebatas pacaran atau bisa juga berakhir mengagumi diam-diam tapi cintanya bertepuk sebelah tangan.

Banyak hal unik diluar nalar yang terjadi ketika seseorang sedang dimabuk cinta. Mulai dari merasa manusia yang paling bahagia diantara 7,85 miliar insan di dunia, perasaan deg-degan setiap dekat dengan doi, bahkan hanya melihat pohon pisang di rumah doi bisa membuat kamu bahagia.

Pernah merasa atau sedang merasa ada diposisi mencintai orang begitu dalam, hingga membuat tak enak makan, apapun akan dilakukan untuknya seorang saat jatuh cinta, yang ada dipikiran hanya dia.. dia dan dia.

Sampai kamu berada dititik menerka kamu sedang kena pelet. Jika mengulik lebih dalam tentang bagaimana seseorang jatuh cinta, hal diluar nalar tersebut bukan karena pelet melainkan ada faktor biologis dalam organ tubuhmu yang berperan besar. Hal tersebut yang bisa membuat lupa dengan kepribadianmu yang sesungguhnya saat dimabuk cinta.

Satu hal yang perlu di catat: jatuh cinta bukan berpusat di hati. Jadi, kalau ada yang mengatakan jatuh hati itu keliru. Fungsi hati adalah membersihkan racun yang ada dalam darah dan membantu proses pencernaan. Tertipu kalau masih merasa jatuh cinta itu di hati apalagi di jantung.

Pusat kontrol yang mengendalikan seluruh respon tubuh saat jatuh cinta berada di otak. Jadi, jatuh cinta bukanlah fenomena melainkan terdapat mekanisme dan penjelasan ilmiah mengapa orang bisa jatuh cinta. Bagaimanakah proses dan siapa saja yang berperan, yuk simak penjelasannya :

Proses Jatuh Cinta

Menurut tim ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. Helen Fisher di Rutgers, ada tiga fase berbeda dalam jatuh cinta yaitu : nafsu, daya tarik, dan keterikatan.

Fase Nafsu

Fase nafsu adalah fase dimana manusia memiliki dorongan keinginan dan menyadari kodratnya untuk melakukan reproduksi. Dengan kata lain, keinginan dalam meneruskan gen mereka.

Hipotalamus otak memainkan peran besar dalam hal ini, merangsang testis dan ovarium untuk memproduksi hormon seks testosteron dan estrogen. Hormon ini yang mendorong hasrat seksual pada manusia.

Disinilah awal mula terbentuknya naluri untuk memiliki pasangan. Baik laki-laki maupun wanita, akan memiliki kriterianya atau tipe masing-masing untuk pasangannya nanti. Menurut dr. Ryu Hasan laki-laki pada umumnya menginginkan rata-rata sampai 14 pasangan seksual sedangkan wanita satu hingga tiga pasangan.

Fase Ketertarikan

Pada fase daya tarik disebut juga fase kasmaran pada orang yang sedang jatuh cinta. Manusia akan tertarik dengan beberapa wanita atau laki-laki. Hal yang pertama dilihat adalah semua yang ada dalam kriterianya.

Namun, ada hal pertama yang bisa menjadi awal terbentuknya ketertarikan pada seseorang secara tidak sadar. Seperti bau badannya, sifat atau wajah yang mirip dengan seseorang yang kamu kenal, penampilannya yang menarik, hingga BMI mereka. Semua hal tersebut berkaitan dengan kriteria mana yang tepat untuk menentukan pasangan yang pas untuk menjadi bibit dalam mencetak generasi selanjutnya.

Tahap ini baru ditahap tertarik, ketika kamu tertarik melihat wajah yang cantik atau tampan, sifatnya dermawan atau tinggi badan yang sangat ideal untuk menjadi pasanganmu.

Tapi, saat jatuh cinta kamu bisa saja mengabaikan idealismu untuk menentukan tipe a-z pada pasanganmu. Kamu bisa jatuh cinta pada orang yang berkepribadian B padahal tipemu adalah orang dengan kepribadian A. Itulah mengapa cinta disebut tidak masuk akal.

Hal tersebut bukan tidak masuk akal, tapi memang cara kerja otak seperti itu. Saat seseorang yang awalnya tertarik, kemudian menemukan hal-hal yang baginya istimewa ditambah orang yang dikagumi juga merespon seperti memberi sinyal bahwa kamu memiliki kesempatan untuk dekat dengannya. Maka disini dimulai cerita percintaan tersebut.

Pemindaian MRI menunjukkan bahwa cinta akan menerangi pusat reward otak dan aliran darah meningkat bagian ini. Dimulainya aliran darah ke pusat reward otakmu, karena ada sesuatu yang membuatmu bahagia tanpa alasan pasti. Saat jatuh cinta (cinta romantis), otakmu akan menghasilkan banyak bahan bakar berupa hormon dopamine, oksitosin, adrenalin dan vasopresin. Hormon tersebut digambarkan sebagai bahan adiktif.

Sebuah studi yang dilakukan di Rutgers University pada tahun 2010 menemukan bahwa jatuh cinta sangat mirip dengan sensasi merasa kecanduan obat-obatan karena pelepasan euforia dan bahan kimia otak yaitu hormon dopamin, oksitosin, adrenalin, dan vasopresin. Sama halnya seperti obat-obatan, semakin banyak waktu yang kamu habiskan dengan orang yang dicinta, semakin tinggi tingkat kecanduannya.

Selain hormon tersebut, ada hormon bahagia lainnya yang muncul saat kamu jatuh cinta. Hormon tersebut adalah dopamine, endorphin, oksitosin, serotonin. Seluruh hormon tersebut juga merupakan bagian neurotransmitter, yang bertugas dalam menyampaikan pesan antara satu sel saraf (neuron) ke sel saraf target dalam gambarannya seperti seorang kurir.

Itu adalah salah satu alasan dari mengapa saat jatuh cinta ada bagian tubuh kita terasa tidak normal. Lalu apakah saja fungsi dan efek samping dari hormon-hormon tersebut pada tubuh kita saat jatuh cinta? Kita lihat satu persatu

Dopamin

Ketika bertemu dengan orang yang baru saja kamu jatuh cintai, kamu akan merasakan “Butterfly in My Stomach”. Gugup, jantung berdebar kencang tapi juga merasa bahagia tak tertahankan. Ini karena kadar dopamine melonjak yang menciptakan perasaan euphoria, sementara adrenalin dan norepinefrin membuat jantungmu berdebar kencang.

Perasaan gelisah dan bahagia yang menjadi satu merupakan perasaan unik yang menantang dan candu untuk ingin terus berada di dekatnya.

Dopamin merupakan hormon "perasaan bahagia" sekaligus neurotransmitter yang merupakan bagian penting dari sistem reward otak. Dopamin berkaitan dengan sensasi yang menyenangkan, penalaran, memori dan fungsi sistem motorik. Dopamin diproduksi oleh hipotalamuspada jalurreward otak yang dilepaskan saat kita melakukan hal-hal yang baik menurut kita, termasuk jatuh cinta.

Norepinefrin

Tangan berkeringat, jantung berdegup kencang, pipi merah, terbata-bata saat ditanya orang yang kamu sukai atau menjadi salah tingkah begitu melihatnya?. Ini biasanya karena adanya peran hormon norepinefrin dan adrenalin yang memacu jantung untuk melakukan aktivitas yang berlebihan.

Norepinefrin merupakan hormon yang dihasilkan dari kelenjar adrenal yang diproduksi secara alami oleh tubuh. Norepinefrin juga disebut sebagai hormon noradrenalin. Noradrenalin bertanggung jawab pada reaksi tubuh saat mengalami stress maupun situasi mendesak sehingga menghasilkan efek seperti pelebaran pupil, peningkatan denyut jantung, pelebaran saluran nafas pada paru-paru, dan peningkatan tekanan darah.

Ini adalah cara tubuh merespon situasi stress dengan baik. Tidak heran saat melihat orang yang dicintai dapat meminimalisir stress, karena hormon ini bekerja dengan baik.

Efek lain karena adanya peningkatan hormon norepinefrin adalah selalu merasa waspada ketika orang yang dicintai dekat dengan orang lain, tidak dapat tidur dan juga menghasilkan kepekaan pada dirimu terhadap pasangan bahkan hingga detail terkecil tentangnya.

Serotonin

Hormon serotonin yang berperan dalam membantu mengatur suasana hati, pola tidur, pencernaan, nafsu makan, kemampuan belajar, dan daya ingat. Namun karena adanya lonjakan dopamine saat sedang jatuh cinta, hormon serotonin mengalami tekanan. Sehingga kadar serotonin dalam tubuh mengalami penurunan.

Jika merasa ada yang aneh pada dirimu seperti tiba-tiba bisa begadang semalaman untuk chatan dengan doi, nafsu makan berkurang, tidak fokus saat belajar atau bekerja dan daya ingat akan hal sekitar berkurang (karena fokusmu berubah menjadi tentang doi semata, tidak ada yang lain).

Hal ini karena kamu terobsesi dengan orang yang kamu cintai. Maka kebiasaan yang biasanya lirik sana lirik sini saat melihat wanita cantik atau laki-laki tampan, tidak akan berlaku dalam episode fase ketertarikan ini.

Menurut Marry Lynn, co-direktur Loyola Sexual Wellness Clinic dan asisten profesor, Departemen Obstetri &Ginekologi, SSOM mengatakan "Cinta menurunkan kadar serotonin, yang umum pada orang dengan gangguan obsesif-kompulsif, ini menjelaskan mengapa kita lebih berkonsentrasi pada pasangan dibanding hal lain selama tahap awal hubungan."

Ini adalah alasan mengapa ada sebutan “Cinta itu Buta”, karena kita cenderung mengidealkan pasangan kita dan hanya melihat hal-hal yang ingin kita lihat pada tahap awal hubungan.

Pada tahap awal hubungan, kita akan mengabaikan pendapat orang lain tentang hubungan yang dijalani atau pandangan mereka terhadap pasangan kita.  Padahal perspektif mereka jauh lebih objektif dan rasional daripada kita yang fungsi rasional dalam otaknya sedang error.

Fase Keterikatan

Fase ini adalah fase dimana kasmaran memudar, rasa deg-degan tidak sesering sebelumnya. Menurut dr. Ryu Hasan, fase kasmaran rata-rata berlangsung 6-8 bulan. Fungsi rasional perlahan mulai bangkit, meski belum sepenuhnya. Sehingga pada fase ini, mulai memikirkan untuk hubungan jangka panjang.

Kebutuhan dalam hubungan bukan lagi tentang chat setiap saat atau bertemu setiap hari, tetapi butuh pembuktian. Baik wanita maupun laki-laki akan mencari dan menelaah apakah mereka membutuhkan pasangannya untuk di masa depan atau tidak.

Mereka membutuhkan alasan untuk percaya dan melanjutkan hubungan, karena disini perasaan bahagia sudah berubah menjadi cemas-cemas resah. Bagaimanapun tujuan awal dari manusia mencari pasangan adalah untuk memenuhi kebutuhan naluri dalam bereproduksi.

Pada fase ini, kadar serotonin kembali normal dan menciptakan keterikatan yang saling percaya dan perasaan membutuhkan berkurang. Hormon yang berperan dominan pada fase ini adalah oksitosin dan vasopresin.

Hormon tersebut membanjiri tubuh saat seseorang merasa aman dan percaya untuk hubungan yang langgeng. Kedua hormon tersebut akan diproduksi oleh wanita maupun laki-laki, namun ada sedikit perbedaan efek saat hormon tersebut diproduksi yang dipengaruhi jenis kelamin.

Oksitosin

Oksitosin adalah salah satu “hormon bahagia” dan sering disebut “hormon ikatan” hal ini memicu perasaan cinta dan perlindungan, empati, kepercayaan dan proses ikatan dalam hubungan. Kadar hormon oksitosin umumnya meningkat dengan kasih sayang fisik seperti berciuman, berpelukan, dan berhubungan intim.

Wanita memiliki tingkat oksitosin yang lebih tinggi  daripada pria, tidak heran wanita lebih mudah percaya kepada laki-laki yang baru mereka temui. Bahkan menurut penuturan dr. Ryu Hassan, wanita bisa langsung percaya dengan laki-laki yang mereka suka hanya karena dipeluk minimal selama 20 detik.

Ketika kadar hormon oksitosin meningkat, seseorang akan merasa lebih berani karena hormon ini dapat menghilangkan rasa takut. Hal lainnya adalah pola tidur menjadi teratur, meningkatkan prilaku sosial yaitu membawa seseorang menjadi lebih positif terhadap orang yang dicintai dengan terus memikirkan apa yang terbaik untuk pasangannya.

Vasopresin

Vasopressin adalah hormon antidiuretik yang dihasilkan oleh otak di kelenjar yang dinamakan hipotalamus, dan disimpan di kelenjar pituitari atau hipofisis. Hormon ini bertugas dalam membantu ginjal untuk mengatur kadar air di dalam tubuh.

Sama halnya dengan hormon oksitosin, hormon ini akan bertambah kadarnya saat adanya sentuhan fisik. Kadar vasopressin pada pria lebih dominan dibanding wanita. Jika dengan pelukan 20 detik wanita bisa langsung percaya dengan pasangannya.

Rata-rata lelaki membutuhkan setidaknya hubungan seksual untuk menumbuhkan kepercayaan. Karena hormon ini dilepaskan setelah terjadi hubungan seksual.

Hormon ini dapat menciptakan hubungan yang sehat, meningkatkan perasaan kesetiaan dan menyebabkan orang merasa protektif terhadap pasangan mereka sambil menyatakan bahwa mereka setia. Vasopressin berperan pada pembentukan komitmen jangka panjang terhadap pasangan.

Pada fase nafsu telah dibahas bahwa laki-laki rata-rata membutuhkan setidaknya 14 pasangan dan wanita satu hingga tiga pasangan. Namun, dengan meningkatnya kadar vasopressin dalam tubuh dapat menekan nafsu tersebut dan mengapus naluri berpoligami pada manusia.

Hal yang Terjadi Saat Patah Hati

Hormon yang terlibat seluruhnya dalam proses jatuh cinta adalah hormon yang membawa perasaan bahagia, merasa aman, percaya dan menghilangkan stress. Itu mengapa cinta diibaratkan sebagai obat dan yang merasa jatuh cinta diibaratkan sebagai seorang pecandu.

Ketika jatuh cinta kadar hormon tersebut meningkat dan sebaliknya, ketika patah hati atau ditinggal pas sayang-sayangnya akan menurunkan kadar hormon tersebut.

Sama halnya dengan pecandu, ketika mereka kehilangan obat atau dipaksa berhenti menggunakan obat pasti akan ada efek putus obat atau yang disebut withdrawal syndrome.

Begitupula saat putus cinta akan berdampak sakit hati, menangis, uring-uringan, berkurangnya nafsu makan, perubahan mood, sulit tidur yang lebih parah adalah susah move on.

Pada kebanyakan kasus, wanita yang paling banyak dan lama merasakan efek pasca putus cinta, karena wanita memiliki hormon oksitosin paling tinggi saat jatuh cinta. Ini mengapa banyak yang mengatakan:

Siap jatuh cinta, siap juga patah hati