Selidik-Selidik Bukit Algoritma
3 min read

Selidik-Selidik Bukit Algoritma

#14 Sebuah mimpi Republik ini bernama Bukit Algoritma, tempat tiruan dari Silicon Valley USA.
Selidik-Selidik Bukit Algoritma

Namanya "Bukit Algoritma", usaha kesekian kali Republik Indonesia untuk meniru Silicon Valley, lokasi markas dari Facebook, Amazon, Netflix dan Google (FANG).

Berlokasi di Sukabumi, proyek yang akan menghabiskan hingga 18 Triliyun Rupiah untuk tiga tahun awal pengembangannya ini, diharapkan jadi pusat inovasi Republik ini.

Tapi, emang segampang itu ya meniru Silicon Valley? Negara-negara lain juga sudah berusaha meniru kok, misalnya Inggris dengan East London Tech City dan Tiongkok punya Shenzhen.

Indonesia sendiri bagaimana? Sebelum Bukit Algoritma, ada beberapa proyek yang digadang-gadang jadi Silicon Valley-nya Indonesia:

  • Bandung Teknopolis, Bandung
  • BSD City, Tanggerang
  • Papuan Youth Creative Hub, Jayapura
  • Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, Malang
  • Nongsa Digital Park, Batam

Jadi, Bukit Algoritma sebenarnya bukan usaha pertama Indonesia untuk punya Sillicon Valley-nya sendiri.

Apakah Bukit Algoritma bisa sukses?

Bisa! Tapi...

Dukung Riset Dalam Negeri

Microscope
Photo by Ousa Chea / Unsplash

Masalah besar pertama yang harus dituntaskan sebenarnya bukan membangun fasilitasnya.

Riset dan inovasi adalah jantung dari Sillicon Valley di Amerika Serikat, dan hal yang sama juga seharusnya jadi jantung Bukit Algoritma di Indonesia.

Sayangnya, alokasi dana untuk riset di Indonesia saat ini hanya 0,22% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Bandingkan dengan Korea Selatan yang mencapai 4,5%, Amerika Serikat yang mengalokasikan 3,1% atau tetangga kita, Singapura yang mengalokasikan 1,9%.

Keputusan untuk membubarkan Kemenristek sebenarnya jadi sebuah ironi dalam usaha Republik ini membangun pusat inovasi nasional.

Kolaborasi Kampus dan Industri Harus Lebih Baik.

Photo by HyoSun Rosy Ko / Unsplash

Silicon Valley di Amerika Serikat tidak hanya soal fasilitas, riset dan modal tapi juga kerjasama antara industri dengan kampus. Tidak jauh dari Silicon Valley ada dua universitas kelas dunia di bidang komputer yaitu Berkeley dan Stanford.

Saat ini, peran industri (pihak swasta) dalam mendukung riset di kampus-kampus Indonesia masih tergolong rendah, perlu ditingkatkan dan dibuat kompetitif.

Pemerintah harusnya bisa membantu dengan menyediakan aturan yang memudahkan serta dukungan dari segi anggaran.

Dukung Talenta Digital

Saat ini, pekerja Indonesia di sektor teknologi informasi masih ada di bawah angka 1%. Mayoritas masyarakat kita masih merupakan pekerja di sektor informal.

Silicon Valley berhasil terbentuk karena talenta-talenta kelas dunia yang awalnya hanya ingin bersekolah di kampus IT seperti Berkeley dan Stanford tapi akhirnya memilih menetap karena dirasa lebih menguntungkan.

Indonesia juga seharusnya mulai bisa melakukan hal yang sama, dimulai dari level nasional. Buat para talenta digital yang ada di daerah untuk datang dan ikut 'membangun' Bukit Algoritma.

Bantu juga mencetak talenta-talenta digital baru, caranya? Pastikan ada kampus IT yang terakreditasi, punya riset yang berkelas dunia serta sediakan beasiswa bagi mereka yang memiliki talenta brilian.

Perbaiki Kesenjangan Digital

I heard recently that the average person scrolls the height of Big Ben in a day. Whilst waiting for a delayed train in Bath I spotted this line of hands on phones – all endlessly scrolling.
Photo by ROBIN WORRALL / Unsplash

Jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini sebenarnya sudah cukup tinggi yaitu diatas 70%. Tapi, kecepatan internet kita masih rendah dan literasi digital masih sangat-sangat kurang.

Diawal kemunculan berita Bukit Algoritma, sempat ada lelucon,

Di Bukit Algoritma, untuk masuk cuma perlu scan wajah. Tapi, di kantor lurah sebelahnya, masih harus fotokopi KTP untuk mengurus dokumen.

Kenapa penting memperbaiki kesenjangan ini? Karena segala inovasi dan produk yang muncul dari Bukit Algoritma di masa mendatang memerlukan pasar.

Sebelum mendunia seperti sekarang, produk-produk dari Microsoft, Apple dan Amazon telah lebih dahulu merajai pasar lokalnya di Amerika Serikat.

Jadi, jika produk dan inovasi dari Bukit Algoritma ingin benar-benar sukses, harus dengan menjadi raja di negeri sendiri dulu sebelum menuju pasar global.

Bangun Fasilitas Pendukung Lainnya

Membangun Bukit Algoritma di 'lahan kosong' sebenarnya agak janggal. Padahal Silicon Valley sendiri sejak awal adalah wilayah padat penduduk dengan masyarakat yang sangat majemuk.

Untuk meniru SV, Bukit Algoritma sangat perlu untuk membangun segala fasilitas pendukung mulai dari perumahan, akses internet, fasilitas umum dan sebagainya. Tentu jika perlu diberikan subsidi sehingga para talenta digital mau untuk pindah kesana.


Akhir Kata

'Meniru' memang terdengar mudah, tapi perbedaan budaya, lokasi dan uang membuat 'meniru Silicon Valley' menjadi sesuatu yang sangat sulit.

Jika Republik ini masih belum bangun dari 'mimpi'-nya untuk membangun Silicon Valley di Indonesia, maka Bukit Algoritma hanya akan jadi proyek taruhan berikutnya yang sangat-sangat mungkin untuk gagal.

Silicon Valley bukan hanya sebuah tempat, tapi sebuah ekosistem. Dan tantangan terbesar Bukit Algoritma adalah menciptakan dan menyesuaikan ekosistemnya sendiri sehingga bisa jadi pusat inovasi Republik ini.